Pada subuh
Dalam diam dan wangi udara yang gelisah
Pada panjang adzan yang luhur juga bisik serangga
Kurapal lagi dan lagi doa yang putih itu
Kutindih lagi rasa rindu yang menggebu itu
Agar tak berlebih aku mendekapmu
Agar sederhana aku mencintamu
Sedang gerimis masih menyapa dari balik jendela kaca
: seperti biasa, menagih hutangku pada bunyi waktu.
Ayani, jika pertemuan adalah serangkaian peristiwa kebetulan, aku ingin kelanjutannya tak ada rekayasa. Aku ingin ketetapan kita bisa berjalan tak membosankan. Tak mengaburkan. Seperti pagi saat disambut kabut pagi.
Ayani, aku ingin mengajakmu bercerita lebih lama. Duduk di sudut bumi yang jauh. Membuat pagi jadi lebih lapang, dan daun-daun lambat berjatuhan. Sambil manghapus jalan pulangku, agar menitik padamu saja, Ayani. Yang akan bersembunyi mengakrabi alis mata dan helai demi helai rambut pakismu. Kemudian berhenti diantara labirin hatimu, untuk memilih tersesat disitu.
Ayani, kelak kita akan dipertemukan oleh banyak rasa kehilangan
Oleh banyak air mata kesakitan
Oleh harapan dan mimpi yang gagal.
Jika kau masih percaya pedih mengajarkan kuat, kita akan kuat Ayani.
Percaya padaku.
Eratkan peganganmu pada tanganku.
Kita akan berlayar
Menebus doa-doa sabar dengan deretan kebahagiaan.
Berdua Ayani.
Berdua saja.